Posts Tagged ‘dokter’
KOK, OBATNYA YANG ITU-ITU JUGA, DOK ?
KOK, OBATNYA YANG ITU-ITU JUGA, DOK ?
Sebut saja Ibu Cantika yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta hampir 5 tahun. Hampir tak pernah mau berobat pada dokter perusahaannya karena jera dan setengah tidak yakin. Jera karena lama sembuh dan kurang yakin karena Ibu ini berkesan obat yang diberikan itu-itu saja.
Keluhan yang sama muncul dari Nyonya Jelita, pegawai negri di sebuah departemen. Kalau tidak terpaksa, tak mau ia berobat ke poloklinik di kantornya. Selain obatnya sedikit, untuk semua pasein obatnya sama saja, katanya. Ia menganggap obatnya sama untuk semua penyakit.
“ Yang pilek obatnya yang kuning kecil. Yang gatal, itu juga. Yang eksim sama, huh, pokoknya kami enggan deh berobat ke sana..”
Tidak sedikit yang berobat di Puskesmas atau Balai Pengobatan mempunyai kesan seperti ini, termasuk yang mendapatkan pelayanan Askes bagi pegawai negri atau sejenisnya.
Benarkah Obatnya Sama ?
Obat dikelompokan dalam beberapa golongan. Secara umum terbagi-bagi dalam dua golongan. Obat untuk meredakan keluhan dan gejala atau simptomatik dan obat untuk membasmi penyebabnya.
Yang utama adalah obat yang membasmi penyebabnya. Obat untuk meredakan keluhan dan gejala hanyalah penyerta, yang tampaknya penyakit akan sembuh juga. Pemberian obat golongan ini hanya meringankan penderitaan pasein, dan cenderung tidak diberikan, jika tanpa obat itu keluhan dan gejala dapat diatasi sendiri.
Obat golongan simptomatik tidak lebih penting daripada golongan pembasmi penyebab penyakitnya. Tanpa obat jenis ini selain lebih ekonomis, tubuh juga tidak terlalu banyak menerima obat.
Misalnya saja batuk-batuk, merupakan suatu gejala. Penyebabnya harus dicari. Bisa infeksi saluran pernafasan, bisa juga kareana alergi, jika bukan karena ada asma. Jika hanya diberikan obat batuk sebagai obat simptomatik, mungkin batuknya akan reda selama minum obat, dan bangkit lagi setelah obatnya habis. Karena penyebab batuknya tidak dibasmi. Maka jangan heran kalau ada orang yang habis 2 botol obat batuk tapi batuknya ngga sembuh-sembuh.
Penggunaan obat golongan antibiotika untuk membasmi infeksi. Tanpa obat batuk, cukup antibiotika saja sesungguhnya batuknya dapat sembuh juga. Tapi selalu aja ada kasus pasein yang meminum obat antibiotik, namun tak sembuh juga. Hal ini bisa karena penyebab batuknya virus, atau alergi, atau kuman yang sudah kebal terhadap antibiotika yang pasein tersebut minum. Untuk lebih mengetahuinya biasanya dilakukan pembiakan dahak sekaligus tes resistensi untuk menguji jenis antibiotika yang masih mempan untuk memusnahkannya.
Obat simptomatik juga terbagi dalam beberapa golongan. Ada yang untuk meredakan nyeri dan demam ( analgetik-antipiretika ), ada juga yang untuk meredakan mulas, anti batuk, anti kejang, penurun tekanan darah serta berbagai pereda keluhan dan gejala lainnya.
Masuk akal jika yang sedang nyeri kepala dan yang sedang nyeri gigi atau nyeri haid mendapat obat yang sejenis, jika bukan obat yang sama. Walaupun kita tahu bahwa satu jenis obat dibuat oleh sekian banyak perusahaan farmasi. Untuk obat nyeri dan demam saja ada puluhan pilihan.
Obat pereda gatal termasuk golongan antihistaminika. Jenis obat ini bermacam-macam. Pemakainnya tidak berbeda. Untuk yang gatal-gatal, yang eksim, yang batuk-pilek juga, yang asma juga.
Karena di perusahaan dokternya hanya satu, dan persediaan obatnya juga tidak beragam seperti di apotik, sehingga pilihan obatnya memang hanya ada satu untuk setiap golongannya. Misalnya untuk anti demam dokter perusahaan hanya menyediakan obat panadol atau golongan obat yang mengandung parasetamol. Dengan demikian mereka yang nyeri kepala, flu, kurang enak badan, bisa jadi diberikan obat yang sama. Demikian pula jika pilihan antihistaminikanya hanya satu, pasein yang alergi dengan pasein yang pilek atau yang eksim, ya obatnya sama. Ini bukan berarti obat yang sama untuk segala penyakit. Tetapi karena banyak penyakit disertai gejala dan keluhan yang sama.
Demikian pula persediaan obat di Puskesmas dan Balai Pengobatan. Variasi jenis obatnya terbatas, sehingga kemungkinan pasein menerima obat yang sama sangat besar, sekalipun penyakitnya berbeda.
Obat antibiotika memang banyak jenisnya. Tetapi yang disediakan dokter perusahaan, dokter poliklinik, atau dokter puskesmas, hanya beberapa jenis saja. Dan semua penyakit yang disebabkan oleh infeksi pasti memerlukan obat antibiotika. Jika pasein yang datang semuanya penyakit infeksi, maka obat antibiotikanya nyaris sama, walaupun infeksinya ada yang di perut atau gigi atau di saluran kemih, atau di saluran pernafasan.
Untuk menambah keyakinan pasein akan obat yang diberikan, dokter biasanya akan menambahkan variasi jenis obatnya. Untuk sejenis obat dipilih dari beberapa merk, sehingga bentuk dan warna obat yang fungsinya sama, berbeda-beda ragamnya. Karena perlu kita ketahui, keyakinan dalam berobat amat menetukan sembuh-tidaknya seorang pasein. Dan keyakinan obat tersebut dipengaruhi oleh kesan pasein terhadap obat yang diberikan. Obat yang dianggap pasein terlalu murah, sekalipun berkhasiat pada orang lain takkan menyembuhkannya. Demikian pula jika penampilan obat sendiri kurang meyakinkan serta diberikan oleh dokter yang sama kurang meyakinkannya. Karena semua itu merupakan bagian dari seni menyembuhkannnya. Oleh karena itu sekarang kita tahu, dunia dokter itu adalah ilmu dan seni.
Dokter VS Tukang Cukur
Dokter VS Tukang Cukur
Cuma tukang cukur yang berpeluang megang-megang kepala presiden. Dokter nyaris tak akan pernah, sekalipun spesialis, kecuali presidennya sedang sakit ketombean atau memerlukan perawatan kepala.
Tukang cukur boleh bersiul-siul selama menggunting rambut sambil ngelantur menghitung kode buntut atau membayangkan hal-
hal lain tanpa risiko. Tergunting daun telinga pelanggannya pun, masih dianggap lumrah. Tapi dokter sudah harus putar otak sejak pasein memasuki pintu praktiknya, mengamati cara pasein berdandan, berjalan dan menyalaminya. Ini penting agar dalam sepuluh-duapuluh menit dokter tidak salah mendiagnosis. Seandainya saja praktik dokter dilakukan sambil bersiul atau menghayal ini-itu, bisa saja terjadi obat hormone wanita diresepkan untuk pasein pria. Ini petaka tak termaafkan karena istri orang akan kehilangan kesuamian suaminya.
Tukang cukur masih pantas buka pangkas di bawah poho duren atau beringin, namun janggal sekiranya dokter sampai berpraktik di trotoar, pakai jeans berkaos oblong tanpa risiko dihujat pasein. Penampilan bagi dokter sama luhurnya dengan profesinya, namun tak begitu penting untuk tukang cukur, karena dengan berkaos kutang pun tak mengapa, sebab yang penting bisa mencukur tanpa membuat kepala yang dicukurnya pitak.
Salah potong model rambut masih lumrah, bahkan sekalipun terpangkas separuh kepala pun, dan kesalahan ini tidak berlaku bagi dokter untuk keteledoran tanpa sengaja yang paling kecil pun, karena dokter dianggap manusia super.
Hari naas tukang cukur hanya terjadi apabila salah mendengar order pelanggannya yang diminta dipotong layaknya jambul Titi DJ, didengarnya minta dibotaki, dan celakanya lagi, yang dicukur terlanjur tidur, lalu terkejut ketika mau bayar kok kulit kepala sudah terasa dingin semuanya.
Sampai begitu pun belum ada undang-undang yang bisa mempidana tukang cukur, kecuali pelanggannya main hakim berdua. Namun jika sampai dokter ada yang salah sunat, misalnya, sudah pasti di kirim ke teralis besi.
Dokter pantang salam melakukan kerja profesinya. Tapi dokter juga manusia yang bisa risau memikirkan gaji kurang, misalnya, sehingga teledor sewaktu menulis resep, Tante yang minta dikuruskan malah diberi obat gendut, atau gadis jelita mendadak jadi gendut gara-gara dokter salah member obatnya.
Dokter dilarang salah dengar, salah ucap atau salah-salah lainnya, apalagi kalau salah periksa atau cara memeriksanya. Tante Jelite pasti protes jika penyakit eksim di tangannya dokter minta buka baju sekujurnya juga. Namun tukang cukur yang rajin membelai-belai dan memijat-mijat kepala dan pundak pelanggannya akan sangat dipuji reputasinya, dan sama sekali tidak dibilang tindakan yang tidak senonoh.
Tukang cukur boleh sambil menyelam minum air. Umpamanya saja ingin melampiaskan unek-uneknya dengan cara mengguncang-guncangkan kepala Pak RT atau walikota lebih keras, karena jengkel beberapa kali ia kena razia ketertiban kota. Namun tidak etis bagi dokter kalau sampai meninju perut pasein sewaktu memeriksa hati atau limpa, sekalipun benar paseinnya itu pernah merebut pacarnya dulu. Namun tukang cukur bisa saja berpura-pura tak sengaja menjitak sewaktu memangkas tukang kredit karena sakit hati ditagih di muka umum.
Dokter wajib menahan diri tidak ketus, sekalipun terhadap paseinnya yang doyan berobat gratisan atau sering minta kredit. Tukang cukur bisa seenaknya mengancam akan menggunduli pelanggannya jika cukurannya bulan lalu masih diutang. Sebaliknya, dokter tak patut mengancam suntik mati, sekalipun paseinnya maen bola di kamar praktinya.
Menghadapi pasein wanita seksi yang berpose menantang di atas tempat periksa pun dokter pria musti pandai merubah perangainya secepat mungkin menjadi kakek berumur 80 tahun, jinak tak bersemangat. Tapi tukang cukur bisa saja iseng mengintip ini-itu.
Dokter yang merasa perlu menaikan tarif karena alas an gaji tidak cukup tetap dinilai tak etis. Tapi hal itu tidak berlaku bagi tukang cukur, yang bisa saja mematok harga jasa potong rambut kapan saja.
Tukang cukur boleh-boleh saja mengkilik lubang telinga pelanggannya sampai tertidur. Tapi dokter THT yang bagian tugasnya juga membersihkan lubang telinga, dianggap malpraktik jika sampai membuat paseinnya tertidur dan tak bangun lagi.
Tukang cukur sah saja memasang papan nama berlampu kelap-kelip, namun tak etis bagi dokter memasang iklan atau papan nama warna-warni berlampu disko, jika tidak ingin dianggap bekas penyanyi dangdut.
Tapi perlu diingat, tukang cukur agak sukar untuk mencukur rambutnya sendiri, tapi dokter masih bisa menyuntik sendiri dan mengobati sendiri ketika sakit.
INTRIK DAN KONFLIK DI BALIK DUNIA KEDOKTERAN
Profesi Dokter dan Permasalahannya.
Mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera.
Mungkin seperti itulah singkatnya tugas dari seorang Dokter di dunia ini Sungguh begitu besar dan mulianya tugas seorang dokter itu. Bagaimana tidak, seorang dokter di tuntut harus mampu untuk bisa merubah suatu keadaan yang buruk menjadi baik. Seorang dokter di tuntut untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah (penyakit) yang datang dari tubuh manusia. Namun kita semua mengetahuinya bahwa hal demikian itu tidak mudah seperti membalikan sebuah telapak tangan.
Dimulai dengan kisah anak sakit keras sehingga tidak bisa makan, main ataupun bersekolah. Oleh ibunya ia dibawa kepada seorang dokter yang kemudian merawatnya dengan sabar dan telaten sampai akhirnya sehat kembali dan bisa melakukan segala kegiatan seperti sediakala. Pengalaman di atas memberikan kesan yang sangat mendalam baik kepada si ibu, anak, maupun keluarganya sehingga terpatri suatu ketetapan bahwa itulah citra dokter yang baik dan dokter semacam itulah yang ingin mereka temui andaikata pada suatu waktu salah seorang anggota keluarganya sakit lagi.
Akhir-akhir ini banyak pandangan yang mencuat ke permukaan bahwa sikap seorang dokter itu arogan dan materialistik. Sangat bertolak belakang sekali dengan keinginan dari banyak masyarakat, yaitu mengedepankan jiwa sosialnya. Namun sebelum jauh kita bahas masalah isu ini, marilah kita flashback terlebih dahulu mengenai perjalanan untuk mencapai gelar sebuah dokter.
Seorang masuk kedokteran dengan idealisme yang tinggi karena menurutnya profesi kedokteran itu sesuai dengan cita-cita hidupnya, yaitu untuk beramal saleh. Selama kuliah, mulai tahun pertama sampai akhir, ia merasakan betapa mahalanya biaya pendidikan dokter itu sehingga harus menguras sebagian besar dana keluarga, baik untuk mendapat posisi kepegawaian maupun untuk berpraktik. Belum lagi biaya alat-alat untuk persiapan praktiknya, yang kemungkinan besar harus dibeli secara kredit. Bersalahkah bila kemudian dokter muda tersebut berusaha sekuat tenaga, untuk mencari rejeki secepat mungkin juga untuk mebalas jasa kepada orang tua, mengembalikan modal, membayar lunas kreditnya dan memiayai keluarganya? . Jika demikian, masih bisakah dia mengatakan dirinya sebagai dokter yang professional sesuai dengan cita-cita hidupnya?. Mungkin seperti itulah rasa dilema seorang profesi dokter.
Di sisi lainnya lagi, sekarang ini kita sudah mengetahui megenai kemajuan bioteknologi yang ada di Negara kita dalam bentuk alat diagnostik dan terapi, dari yang sederhana sampai yang sangat canggih. Namun sekali lagi, ini pun menjadi suatu dilema bagi seorang profesi dokter, Mengapa? . Masyarakat dewasa sekarang ini tentu saja akan memilih dan menganggap bahwa seorang dokter yang menggunakan alat-alat canggih untuk mendiagnosa dan memberikan terapi paseinnya adalah seorang dokter pilihan masyarakat, karena mereka menganggap hal itu sebagai ciri dari dokter yang profesional.
Belum cukup dari semua itu, disamping adanya kemajuan bioteknologi dalam dunia medis, muncul lagi permasalahan mengenai Hak Asasi Manusia dalam pelayanan kesehatan. Salah satu bentuknya adalah Hak Reproduksi Wanita, yang antrara lain menyatakan bahwa setiap individu wanita berhak menentukan kapan dia mau hamil, berapa jumlah anaknya, dan berapa lama jarak antara dua kehamilan. Kemudian, dalam kasus wanita yang sedang dalam keadaan hamil, sedangkan kehamilan itu tidak direncanakan/diinginkan, maka dia berhak meminta kepada dokternya agar kehamilannya tidak diteruskan. Apakah kita para dokter, agar dianggap sebagai dokter yang modern dan profesional harus mengkuti arus globalisasi tersebut tanpa reserve? Padahal, sudah jelas terbukti bahwa kehadiran alat-alat canggih dan mahal itu tidak bisa menurunkan gejala kematian/kesakitan ibu dan anak secara bermakna. Sementara itu, pengaplikasian Hak Asasi Manusia tanpa dipilah-dipilih akan menimbulkan erosi kebudayaan.
Landasan Utama Profesi Kedokteran
Mengingat bahwa isu-isu dan permasalahan tentang dunia kedokteran itu akan terus-menerus berlanjut, tampaknya kita tidak mungkin menawarkan suatu citra profesi kedokteran yang baku, yang berlaku untuk sepanjang masa. Yang bisa ditawarkan adalah stereotip segi konseptual-fisioligis-normatifnya, sedangkan segi aplikatifnya bisa bersifat pragmatis disesuaikan dengan situasi aktual pada saat itu. Wacana fisiologis-normatifnya harus tetap menggambarkan citra seorang yang mempunyai niat atau keinginan yang baik, dengan dibekali oleh ilmu dan keterampilan yang memadai, dan dalam melaksanakan tugasnya disertai dengan prilaku yang dapat diterima oleh semua pihak.
Pada dasarnya profesi kedokteran terbentuk di atas tiga landasan utama, yaitu :
I. Ciri-ciri profesi kedokteran
Sampai sekarang ini masih sisepakati bahwa seorang dokter dianggap profesional bila memenuhi tiga persyaratan, yaitu :
- Memiliki ilmu dan teknologi kedokteran yang sukup
- Menguasai keterampilan klinis yang baik
- Mempunyai niat, sikap, dan prilaku yang etis
Kalau kita kaji labih teliti akan terlihat bahwa ketiga syarat tersebut hanya menggambarkan keprofesian pada saat dokter itu menghadapi suatu individu. Padahal, dokter itu diharapkan buakn saja mengobati penyakit pada seseorang, tetapi juga dapat enyelesaikan masalah suatu penyakit di masyarakat. Oleh karena itu, agar dapat emnunaikan tugas terakhir ini, ciri keprofesian harus ditambah dengan satu syarat lagi, yaitu “kemampuan manajerial”. Namun, tampaknya persyartan terakhir ini belum menjadi kesepakatan umum karena dalam kurikulum pendidikan pun belum mendapat porsi yang sepadan.
II. Pengrtian fungsional ilmu dan teknologi kedokteran
Dalam dunia medis dikenal dengan adanya kedokteran klinis seperti Obstetri Ginekologi, Bedah
Interne, dan Pediatri. Di samping itu, ada praklinik dan pramedik. Namun, dalam fungsi sehari-hari sebagai dokter, dalam konteks profesi kedokteran, rasanya tidak tepat kalau kita menggunakan nama-nama ilmu tersebut di atas satu per satu, tetapi harus dalam istilah yang utuh. Istilah itu adalah Ilmu Kedokteran atau Medicine. Itulah sebabnya institusi yang mendidik calon dokter disebut sebagai School (faculty) of Medicine.
Sesuai dengan yang tercantum di Dorland’s Medical Dictionary disebutkan bahwa : Medicine is art and science of the diagnostic and treatment of disease and the maintenance of health.
Dalam definisi tersebut medicine dinyatakan sebagai disiplin gabungan antara seni (art) dan ilmu (science), yang dapat dikatakan mewakili ilmu humaniora dan biomedis. Di sini kita bisa melihat beberapa kata kunci, yaitu seni, ilmu diagnostik, treatment dan perawatan kesehatan. Ilmu di sini menggambarkan iptek biomedis dan keterampilan klinis dalam membuat diagnosis dan menentukan jenis pengobatan.
Perawatan kesehatan berarti menjaga atau mempertahankan kesehatan. Kesehatan siapa? Tentu yang dijaga adalah kesehatan manusia, sedangkan manusia itu makhluk yang berperasaan. Jadi bagaimana kita harus mengaplikasikan perawatan kesehatan kita, yang di dalamnya terdapat pengetian sakit, penderitaan, dan bayangan kematian kepada seorang manusia yang berperasaan. Untuk itulah diperlukan art atau seni. Seni di sini tidak dalam pengertian keilmuan, seperti seni bahasa, seni lukis, atau seni tari, tetapi seni dalam pengertian niat, sikap, dan prilaku yang etis. Jadi, dengan menggabungkan ilmu dengan seni ( niat, sikap, dan prilaku yang etis ), lengkap sudah ciri profesi kedokteran tersebut.
Timbul suatu pertanyaan, Mengapa kata seni diletakan di depan ilmu? Apakah disengaja atau keetulan saja? . Memang seyogyanya seni itu mendahului ilmu, karena seni adalah sesuatu yang harus dipunyai oleh setiap dokter sebagai landasan moral, dan sifatnya abadi, tidak boleh berubah walaupun terjadi berbagai perkembangan. Sementara itu, ilmu walaupun harus dikuasai oleh para dokter, sifatnya fana, selalu berubah sesuai dengan perkembangan bioteknologi dan jenis spesialisasi yang ditekuninya. Misalnya, Dokter Umum, SpOG, dan Ahli Bedah, kemampuan khususnya berbeda-beda, namun seni atau landasan moralnya tetap sama.
III. Unsur-unsur pendidikan dokter
Seperti kita ketahui tiap ilmu mengandung tiga dimensi, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk menguasai dimensi kognitif yang diperlukan adalah kekuatan otak (akal), sedangkan untuk psikomotor yang diutamakan adalah kemampuan pancaindra. Yang terakhir adalah dimensi afektif yang merupakan pekerjaan kalbu, hati nurani, atau perasaan.
UNESCO mengatakan bahwa dalam proses belajar, apa pun jenis yang dicari, agar bsia bermanfaat harus mengandung empat unsur, yaitu :
1. Learning to know
2. Learning to do
3. Learning to be
4. Learning to live together
Profesi Dokter Yang Diharapkan
Pada dasarnya ilmu kedokteran itu hanya menangani tiga hal, yaitu :
1. Mempelajari menusia sehat dan menjaga agar tetap sehat
2. Mempelajari menusia sakit dan berusaha agar menajdi sehat kembali
3. Mempelajari bagaimana manusia berkembang biak (proses reproduksi)
Semua itu dilakukan dengan memepelajari tiap organ tubuh, baik secara antomis maupun fisiologis. Apabila pendidikan dokter itu semata-mata hanya berdasarkan ilmu biomedis seperti yang telah diuraikan di atas, pola kerja semacam ini akan meredusir manusia menjadi sekelompok organ, baik yang sehat maupun yang sakit. Bla ini terjadi, para dokter bisa kehelingan sifat humanistisnya. Keadaan ini sama sekali tidak sesuai denagn citra profesi kedokteran.
Kalau kita berbicara tentang citra profesi seorang dokter, sesungguhnya yang paling diperlukan hanya dua faktor, yaitu beneficence dan otonomi (tanpa mengesampingkan sikap adil kepada masyarakat). Kedua faktor tadi sangat dibutuhkan untuk membina hubungan baik denagn pasein, atau dengan perkataan lain, untuk mewujudkan Etika Klinis.
Apa sesungguhnya yang dimaksud beneficence ? Secara semantik artinya kebaikan, kemurahan hati, atau pernyataan simpati, tetapi secara ekstrem bisa berarti baik dalam niat, sikap, dan prilaku, ditamah dengan kesediaan untuk berkorban. Sementara itu, faktor otonomi hanya bericara tentang hak pasein, tanpa sama sekali menyinggung tentang hak dokter.
Oleh karena itu, para calondokter pada setiap pendidikannya, di samping dibekali ilmu biomedis harus pula dibekali ilmu lain, yaitu Ilmu Humaniora. Yang termasuk ilmu humaniora itu sendiri antara lain adalah agama, falsafah ilmu, bioetikla, pancasila, dan antropologi kesehatan.
Haruskah sampai demikian jauh dokter itu berbuat? Mampukah seorang dokter berbuat demikian? Berhakkah masyarakat menuntut para dokter untuk selalu berbuat demikian? Kalau jawabannya Ya untuk ketiga pertanyaan tadi, maka sesungguhnya profesi kedokteran itu sangat berat!
Melihat teori seperti itu, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang dokter seharusnya tidak hanya dituntut memilki ilmu biomedis serta klinik saja, namun dituntut pula untuk memiliki suatu etika, aturan, dan sikap bijaksana yang sesuai dengan aturan norma-norma yang berlaku baik secara hukum pemerintahan maupun hukum agama, agar dapat mewujudkan tujuan suatu citra profesi dokter yang diharapkan oleh banyak masyarakat di dunia ini.
Mengingat dokter itu merupakan seorang manusia juga, maka secara naluriah dokter pun memiliki perasaan, keinginan, kebutuhan, dan harapan seperti manusia lainnya. Namun di samping itu, dia juga tidak bebas dari sifat khilaf, suka tidak suka, senang tidak senang, serta dapat berbuat kesalahan. Kalau mengikuti alur pemikiran ini, maka akan sangat sulit untuk seseorang melaksanakan sikap beneficenc-nya dan mengakui hak otonomi paseinnya. Akibatnya, tidak akan ada seorang dokter pun yang dapat meklakukan tugasnya secara utuh. Dengan demikian, Etika Klinis yang berpijak pada landasan moral fisiologis tadi, akan tetap berupa wacana saja dan tidak bisa jadi salah suatu ciri pendukung keutuhan profesi kedokteran. Di sinilah faktor agama sangat dibutuhkan, khususnya agama Islam. Disaat rasa pesimis dan putus asa datang menghantui, maka rasa keikhlasan; sabar; jujur; dan taqwa kepada Allah SWT –lah yang dapat membentengi niat dan tujuan kita. Yang terpenting adalah proses plaksanaanya yang akan menentukan suatu hasil yang baik atau buruk, namun tetap saja yang menentukan hasil adalah HAK Allah SWT.
Oleh karena itu, seiap dokter harus sadar bahwa citra profesinya selalu bisa berubah karena dia sebagai manusia yang mempunyai berbagai kelemahan. Namun , yang harus lebih disadari adalah kewajiban untuk selalu memperbaikinya. Bisa saja pada suatu waktu dia dianggap profesional karena dapat menyelesaikan satu kasus dengan baik dan pasein merasa puas. Akan tetapi pada kasus lain oleh karena suatu sebab dia tidak bisa memberikan kepuasan sehingga dianggap tidak/kurang profesional.
Tampaknya kita harus sadar bahwa kepemilikan atau pengakuan profesi kedokteran itu hanya bersifat sesaat. Yang harus dijaga adalah agar saat-saat keprofesiannya itu makin lama makin lama waktunya, dan pengakuan terhadap keprofesian itu, khususnya pengakuan oleh pasein dan masyarakat, masih tetap ada pada saat kita mengakhiri profesi kita.
Maka dari itu, akhirnya kita harus sepakat bahwa profesi kedokteran itu TETAP HARUS ADA, dan harus tetap dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Landasan utamanya harus tetap berpijak pada filosofi moral, sedangkan aplikasinya sesuaikan dengan perkembangan jaman, tetapi selalu harus identik dengan tugas manusia taqwa, yaitu beramal saleh.
Semesta kenyataan hidup di dunia ini adalah kesibukan berbuat menurut Allah SWT, semoga kita pun demikian adanya. Amin
Daftar Pustaka :
Martaadisoebrata D. “Pengantar Ke Dunia Profesi Kedokteran”, 2004, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.











![[explored #7] [explored #7]](http://static.flickr.com/8027/7280513748_d23115c0d8_t.jpg)

