And now , Bring me that horizon …

Lets start the new adventure !

INTRIK DAN KONFLIK DI BALIK DUNIA KEDOKTERAN

leave a comment »

Profesi Dokter dan Permasalahannya.

Mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera.

Mungkin seperti itulah singkatnya tugas dari seorang Dokter di dunia ini Sungguh begitu besar dan mulianya tugas seorang dokter itu. Bagaimana tidak, seorang dokter di tuntut harus mampu untuk bisa merubah suatu keadaan yang buruk menjadi baik. Seorang dokter di tuntut untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah (penyakit) yang datang dari tubuh manusia. Namun kita semua mengetahuinya bahwa hal demikian itu tidak mudah seperti membalikan sebuah telapak tangan.

Dimulai dengan kisah anak sakit keras sehingga tidak bisa makan, main ataupun bersekolah. Oleh ibunya ia dibawa kepada seorang dokter yang kemudian merawatnya dengan sabar dan telaten sampai akhirnya sehat kembali dan bisa melakukan segala kegiatan seperti sediakala. Pengalaman di atas memberikan kesan yang sangat mendalam baik kepada si ibu, anak, maupun keluarganya sehingga terpatri suatu ketetapan bahwa itulah citra dokter yang baik dan dokter semacam itulah yang ingin mereka temui andaikata pada suatu waktu salah seorang anggota keluarganya sakit lagi.

Akhir-akhir ini banyak pandangan yang mencuat ke permukaan bahwa sikap seorang dokter itu arogan dan materialistik. Sangat bertolak belakang sekali dengan keinginan dari banyak masyarakat, yaitu mengedepankan jiwa sosialnya. Namun sebelum jauh kita bahas masalah isu ini, marilah kita flashback terlebih dahulu mengenai perjalanan untuk mencapai gelar sebuah dokter.

Seorang masuk kedokteran dengan idealisme yang tinggi karena menurutnya profesi kedokteran itu sesuai dengan cita-cita hidupnya, yaitu untuk beramal saleh. Selama kuliah, mulai tahun pertama sampai akhir, ia merasakan betapa mahalanya biaya pendidikan dokter itu sehingga harus menguras sebagian besar dana keluarga, baik untuk mendapat posisi kepegawaian maupun untuk berpraktik. Belum lagi biaya alat-alat untuk persiapan praktiknya, yang kemungkinan besar harus dibeli secara kredit. Bersalahkah bila kemudian dokter muda tersebut berusaha sekuat tenaga, untuk mencari rejeki secepat mungkin juga untuk mebalas jasa kepada orang tua, mengembalikan modal, membayar lunas kreditnya dan memiayai keluarganya? . Jika demikian, masih bisakah dia mengatakan dirinya sebagai dokter yang professional sesuai dengan cita-cita hidupnya?. Mungkin seperti itulah rasa dilema seorang profesi dokter.

Di sisi lainnya lagi, sekarang ini kita sudah mengetahui megenai kemajuan bioteknologi yang ada di Negara kita dalam bentuk alat diagnostik dan terapi, dari yang sederhana sampai yang sangat canggih. Namun sekali lagi, ini pun menjadi suatu dilema bagi seorang profesi dokter, Mengapa? . Masyarakat dewasa sekarang ini tentu saja akan memilih dan menganggap bahwa seorang dokter yang menggunakan alat-alat canggih untuk mendiagnosa dan memberikan terapi paseinnya adalah seorang dokter pilihan masyarakat, karena mereka menganggap hal itu sebagai ciri dari dokter yang profesional.

Belum cukup dari semua itu, disamping adanya kemajuan bioteknologi dalam dunia medis, muncul lagi permasalahan mengenai Hak Asasi Manusia dalam pelayanan kesehatan. Salah satu bentuknya adalah Hak Reproduksi Wanita, yang antrara lain menyatakan bahwa setiap individu wanita berhak menentukan kapan dia mau hamil, berapa jumlah anaknya, dan berapa lama jarak antara dua kehamilan. Kemudian, dalam kasus wanita yang sedang dalam keadaan hamil, sedangkan kehamilan itu tidak direncanakan/diinginkan, maka dia berhak meminta kepada dokternya agar kehamilannya tidak diteruskan. Apakah kita para dokter, agar dianggap sebagai dokter yang modern dan profesional harus mengkuti arus globalisasi tersebut tanpa reserve? Padahal, sudah jelas terbukti bahwa kehadiran alat-alat canggih dan mahal itu tidak bisa menurunkan gejala kematian/kesakitan ibu dan anak secara bermakna. Sementara itu, pengaplikasian Hak Asasi Manusia tanpa dipilah-dipilih akan menimbulkan erosi kebudayaan.

Landasan Utama Profesi Kedokteran

Mengingat bahwa isu-isu dan permasalahan tentang dunia kedokteran itu akan terus-menerus berlanjut, tampaknya kita tidak mungkin menawarkan suatu citra profesi kedokteran yang baku, yang berlaku untuk sepanjang masa. Yang bisa ditawarkan adalah stereotip segi konseptual-fisioligis-normatifnya, sedangkan segi aplikatifnya bisa bersifat pragmatis disesuaikan dengan situasi aktual pada saat itu. Wacana fisiologis-normatifnya harus tetap menggambarkan citra seorang yang mempunyai niat atau keinginan yang baik, dengan dibekali oleh ilmu dan keterampilan yang memadai, dan dalam melaksanakan tugasnya disertai dengan prilaku yang dapat diterima oleh semua pihak.

Pada dasarnya profesi kedokteran terbentuk di atas tiga landasan utama, yaitu :

I. Ciri-ciri profesi kedokteran

Sampai sekarang ini masih sisepakati bahwa seorang dokter dianggap profesional bila memenuhi tiga persyaratan, yaitu :

–         Memiliki ilmu dan teknologi kedokteran yang sukup

–         Menguasai keterampilan klinis yang baik

–         Mempunyai niat, sikap, dan prilaku yang etis

Kalau kita kaji labih teliti akan terlihat bahwa ketiga syarat tersebut hanya menggambarkan keprofesian pada saat dokter itu menghadapi suatu individu. Padahal, dokter itu diharapkan buakn saja mengobati penyakit pada seseorang, tetapi juga dapat enyelesaikan masalah suatu penyakit di masyarakat. Oleh karena itu, agar dapat emnunaikan tugas terakhir ini, ciri keprofesian harus ditambah dengan satu syarat lagi, yaitu “kemampuan manajerial”. Namun, tampaknya persyartan terakhir ini belum menjadi kesepakatan umum karena dalam kurikulum pendidikan pun belum mendapat porsi yang sepadan.

II. Pengrtian fungsional ilmu dan teknologi kedokteran

Dalam dunia medis dikenal dengan adanya kedokteran klinis seperti Obstetri Ginekologi, Bedah

Interne, dan Pediatri. Di samping itu, ada praklinik dan pramedik. Namun, dalam fungsi sehari-hari sebagai dokter, dalam konteks profesi kedokteran, rasanya tidak tepat kalau kita menggunakan nama-nama ilmu tersebut di atas satu per satu, tetapi harus dalam istilah yang utuh. Istilah itu adalah Ilmu Kedokteran atau Medicine. Itulah sebabnya institusi yang mendidik calon dokter disebut sebagai School (faculty) of Medicine.

Sesuai dengan yang tercantum di Dorland’s Medical Dictionary disebutkan bahwa :  Medicine is art and science of the diagnostic and treatment of disease and the maintenance of health.

Dalam definisi tersebut medicine dinyatakan sebagai disiplin gabungan antara seni (art) dan ilmu (science), yang dapat dikatakan mewakili ilmu humaniora dan biomedis. Di sini kita bisa melihat beberapa kata kunci, yaitu seni, ilmu diagnostik, treatment dan perawatan kesehatan. Ilmu di sini menggambarkan iptek biomedis dan keterampilan klinis dalam membuat diagnosis dan menentukan jenis pengobatan.

Perawatan kesehatan berarti menjaga atau mempertahankan kesehatan. Kesehatan siapa? Tentu yang dijaga adalah kesehatan manusia, sedangkan manusia itu makhluk yang berperasaan. Jadi bagaimana kita harus mengaplikasikan perawatan kesehatan kita, yang di dalamnya terdapat pengetian sakit, penderitaan, dan bayangan kematian kepada seorang manusia yang berperasaan. Untuk itulah diperlukan art atau seni. Seni di sini tidak dalam pengertian keilmuan, seperti seni bahasa, seni lukis, atau seni tari, tetapi seni dalam pengertian niat, sikap, dan prilaku yang etis. Jadi, dengan menggabungkan ilmu dengan seni ( niat, sikap, dan prilaku yang etis ), lengkap sudah ciri profesi kedokteran tersebut.

Timbul suatu pertanyaan, Mengapa kata seni diletakan di depan ilmu? Apakah disengaja atau keetulan saja? . Memang seyogyanya seni itu mendahului ilmu, karena seni adalah sesuatu yang harus dipunyai oleh setiap dokter sebagai landasan moral, dan sifatnya abadi, tidak boleh berubah walaupun terjadi berbagai perkembangan. Sementara itu, ilmu walaupun harus dikuasai oleh para dokter, sifatnya fana, selalu berubah sesuai dengan perkembangan bioteknologi dan jenis spesialisasi yang ditekuninya. Misalnya, Dokter Umum, SpOG, dan Ahli Bedah, kemampuan khususnya berbeda-beda, namun seni atau landasan moralnya tetap sama.

III. Unsur-unsur pendidikan dokter

Seperti kita ketahui tiap ilmu mengandung tiga dimensi, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk menguasai dimensi kognitif yang diperlukan adalah kekuatan otak (akal), sedangkan untuk psikomotor yang diutamakan adalah kemampuan pancaindra. Yang terakhir adalah dimensi afektif yang merupakan pekerjaan kalbu, hati nurani, atau perasaan.

UNESCO mengatakan bahwa dalam proses belajar, apa pun jenis yang dicari, agar bsia bermanfaat harus mengandung empat unsur, yaitu :

1.     Learning to know

2.     Learning to do

3.     Learning to be

4.     Learning to live together

Profesi Dokter Yang Diharapkan

Pada dasarnya ilmu kedokteran itu hanya menangani tiga hal, yaitu :

1.     Mempelajari menusia sehat dan menjaga agar tetap sehat

2.     Mempelajari menusia sakit dan berusaha agar menajdi sehat kembali

3.     Mempelajari bagaimana manusia berkembang biak (proses reproduksi)

Semua itu dilakukan dengan memepelajari tiap organ tubuh, baik secara antomis maupun fisiologis. Apabila pendidikan dokter itu semata-mata hanya berdasarkan ilmu biomedis seperti yang telah diuraikan di atas, pola kerja semacam ini akan meredusir manusia menjadi sekelompok organ, baik yang sehat maupun yang sakit. Bla ini terjadi, para dokter bisa kehelingan sifat humanistisnya. Keadaan ini sama sekali tidak sesuai denagn citra profesi kedokteran.

Kalau kita berbicara tentang citra profesi seorang dokter, sesungguhnya yang paling diperlukan hanya dua faktor, yaitu beneficence dan otonomi (tanpa mengesampingkan sikap adil kepada masyarakat). Kedua faktor tadi sangat dibutuhkan untuk membina hubungan baik denagn pasein, atau dengan perkataan lain, untuk mewujudkan Etika Klinis.

Apa sesungguhnya yang dimaksud beneficence ? Secara semantik artinya kebaikan, kemurahan hati, atau pernyataan simpati, tetapi secara ekstrem bisa berarti baik dalam niat, sikap, dan prilaku, ditamah dengan kesediaan untuk berkorban. Sementara itu, faktor otonomi hanya bericara tentang hak pasein, tanpa sama sekali menyinggung tentang hak dokter.

Oleh karena itu, para calondokter pada setiap pendidikannya, di samping dibekali ilmu biomedis harus pula dibekali ilmu lain, yaitu Ilmu Humaniora. Yang termasuk ilmu humaniora itu sendiri antara lain adalah agama, falsafah ilmu, bioetikla, pancasila, dan antropologi kesehatan.

Haruskah sampai demikian jauh dokter itu berbuat? Mampukah seorang dokter berbuat demikian? Berhakkah masyarakat menuntut para dokter untuk selalu berbuat demikian? Kalau jawabannya Ya untuk ketiga pertanyaan tadi, maka sesungguhnya profesi kedokteran itu sangat berat!

Melihat teori seperti itu, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang dokter seharusnya tidak hanya dituntut memilki ilmu biomedis serta klinik saja, namun dituntut pula untuk memiliki suatu etika, aturan, dan sikap bijaksana yang sesuai dengan aturan norma-norma yang berlaku baik secara hukum pemerintahan maupun hukum agama, agar dapat mewujudkan tujuan suatu citra profesi dokter yang diharapkan oleh banyak masyarakat di dunia ini.

Mengingat dokter itu merupakan seorang manusia juga, maka secara naluriah dokter pun  memiliki perasaan, keinginan, kebutuhan, dan harapan seperti manusia lainnya. Namun di samping itu, dia juga tidak bebas dari sifat khilaf, suka tidak suka, senang tidak senang, serta dapat berbuat kesalahan. Kalau mengikuti alur pemikiran ini, maka akan sangat sulit untuk seseorang melaksanakan sikap beneficenc-nya dan mengakui hak otonomi paseinnya. Akibatnya, tidak akan ada seorang dokter pun yang dapat meklakukan tugasnya secara utuh. Dengan demikian, Etika Klinis yang berpijak pada landasan moral fisiologis tadi, akan tetap berupa wacana saja dan tidak bisa jadi salah suatu ciri pendukung keutuhan profesi kedokteran. Di sinilah faktor agama sangat dibutuhkan, khususnya agama Islam. Disaat rasa pesimis dan putus asa datang menghantui, maka rasa keikhlasan; sabar; jujur; dan taqwa kepada Allah SWT –lah yang dapat membentengi niat dan tujuan kita. Yang terpenting adalah proses plaksanaanya yang akan menentukan suatu hasil yang baik atau buruk, namun tetap saja yang menentukan hasil adalah HAK Allah SWT.

Oleh  karena itu, seiap dokter harus sadar bahwa citra profesinya selalu bisa berubah karena dia sebagai manusia yang mempunyai berbagai kelemahan. Namun , yang harus lebih disadari adalah kewajiban untuk selalu memperbaikinya. Bisa saja pada suatu waktu dia dianggap profesional karena dapat menyelesaikan satu kasus dengan baik dan pasein merasa puas. Akan tetapi pada kasus lain oleh karena suatu sebab dia tidak bisa memberikan kepuasan sehingga dianggap tidak/kurang profesional.

Tampaknya kita harus sadar bahwa kepemilikan atau pengakuan profesi kedokteran itu hanya bersifat sesaat. Yang harus dijaga adalah agar saat-saat keprofesiannya itu makin lama makin lama waktunya, dan pengakuan terhadap keprofesian itu, khususnya pengakuan oleh pasein dan masyarakat, masih tetap ada pada saat kita mengakhiri profesi kita.

Maka dari itu, akhirnya kita harus sepakat bahwa profesi kedokteran itu TETAP HARUS ADA, dan harus tetap dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Landasan utamanya harus tetap berpijak pada filosofi moral, sedangkan aplikasinya sesuaikan dengan perkembangan jaman, tetapi selalu harus identik dengan tugas manusia taqwa, yaitu beramal saleh.

Semesta kenyataan hidup di dunia ini adalah kesibukan berbuat menurut Allah SWT, semoga kita pun demikian adanya. Amin

Daftar Pustaka :

Martaadisoebrata D. “Pengantar Ke Dunia Profesi Kedokteran”, 2004, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Written by rido284

August 24, 2008 at 4:48 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: