And now , Bring me that horizon …

Lets start the new adventure !

A CHILD CALLED “ IT ”

leave a comment »


Pasti ada yang udah pernah baca novel ini. Jadul banget neh sebenernya. Tapi bagi yang belom baca, monggo di simak🙂 .

Category:

Books

Genre:

Nonfiction

Author:

David Pelzer

A CHILD CALLED “ IT ”

Realitas Perjuangan Seorang Anak Untuk Memepertahankan hidup

Apakah anda ingat atau bahkan mengetahui orang yang membawa obor api Olimpiade pada tahun 1996 ? Apakah anda mengetahuinya pula bahwa Ia adalah satu-satunya warga Amerika yang dianugrahi penghargaan sebagai salah satu dari Out-standing Young Persons of the World, di Kobe, Jepang, atas upayanya meningkatkan kewaspadaan akan perlakuan kasar terhadap anak-anak dan pencegahannya, juga atas kegigihannya yang tanpa kenal henti dalam menanamkan pentingnya bersikap tabah. Yah, mungkin anda tidak akan dapat mengingatnya, atau bahkan anda tidak mengetahuinya sama sekali siapakah orang yang dimaksud tersebut.

David Pelzer, yah, dialah orang yang dimaksud. Dialah penulis dari buku trilogi A- Child Called ‘It’, The Lost Boy dan A Man Named Dave. Ketiga bukunya ini bercerita mengenai dinamika pengalaman hidupnya dari semenjak dia berumur 4 tahun hingga dia dewasa dan memiliki istri dan anak. Melihat dari isi cerita buku tersebut, rasanya 3 buah buku itu tidak cukup untuk menggambarkan betapa penting arti dari sebuah kehidupan bagi seorang David Pelzer.

Masa Bahagia

David Pelzer adalah tiga bersaudara yang tinggal di Daly City San Francisco. Layaknya keluarga yang lain, mereka memiliki seorang Ayah dan Ibu yang menyayangi mereka setiap saat, dan kapan pun mereka butuh kehangatannya.

Ayah david adalah seorang petugas pemadam kebakaran di kotanya, yang berakibat harus siap bekerja selama 24 jam penuh kapan pun panggilan datang. Sehingga dalam hidupnya, David lebih sering bersama dengan Ibunya di rumah. Ibu David adalah perempuan yang sangat mencintai anak-anaknya, pandai dalam berbenah rumah, memiliki tekad yang keras, pandai memasak dan yang paling penting adalah rasa kasih sayang yang tidak terkira kepada anak-anaknya. Banyak sekali kejutan-kejutan yang Ibunya buat untuk menciptakan suasana hangat di keluarga, seperti dekorasi ruang makan saat menjelang makan malam, mengajak piknik ke tempat yang indah, memberikan hadiah-hadiah mainan, bahkan sampai mengajari anak-anaknya dalam memaknai arti kehidupan ini secara berbeda. Seperti yang Ibunya lakukan ketika menyuruh kepada anak-anaknya untuk duduk mendekat di sebelah kucing yang sedang bertingkah aneh. Kemudian Ibu menyuruh mereka duduk tenang sambil Ibu menjelaskan kepada mereka bagaimana susah dan beresikonya orang dalam proses melahirkan seorang anak. Ibunya selalu memberikan pelajaran yang berguna dengan cara yang berbeda kepada anak-anaknya, bahkan sampai anak-anaknya itu sempat tidak menyadarinya bahwa mereka tengah diberi suatu pengetahuan baru dalam hidup.

Hari-hari yang dilalui oleh keluarga ini selalu penuh dengan keceriaan, kebahagiaan, dan kedamaian diantara anggota keluarganya. Contoh kecilnya saja, pada setiap Natal tiba, tinggi pohon Natal keluarga ini tidak pernah kurang dari dua setengah meter, dan semua anggota keluarga meluangkan waktu seharian untuk menghiasinya. Setiap tahun salah satu dari mereka memperoleh kehormatan untuk menaruh hiasan malaikat di puncak pohon Natal tersebut, sementara Ayahnya mengangkat badan anak-anaknya dengan tangannya yang kuat. Dan sampai ketika malam Natal tiba, Ibunya diam-diam memasuki kamar tidur anak-anaknya sambil berbisik “ Bangun, Santa datang ! ” , kemudian mengajak anak-anaknya menuju pohon natal untuk segera membuka bingkisan-bingkisan hadiah yang sebelumnya telah disiapkan. Pada saat itu tidak jarang Ibunya selalu menangis, namun ketika ditanya mengapa ia menangis, Ibunya menjawab bahwa ia menangis karena ia merasa begitu bahagia memiliki keluarga yang sesungguhnya.

Meskipun Ayahnya jarang berada di rumah, David beserta kedua saudara laki-lakinya tidak pernah merasa sedih. Karena Ibunya selalu mengajak mereka berkeliling seharian ke tempat-tempat yang indah dan berkesan, seperti memandangi nuansa keindahan di Golden Gate Park San Fransisco. Sebagai anak kecil, di sanalah David merasakan bahwa inilah tempat yang paling ia sukai di kotanya, di samping tangan Ibunya yang selalu menggenggam tangan David dengan lembut sambil memberikan senyumnya, dan di saat-saat itulah mereka – terutama David – merasakan aman, damai dan begitu hangatnya kasih sayang dari seorang Ibu.

Awal Dari Sebuah Malapetaka

Hubungan David dengan Ibunya berubah drastis, dari kehidupan harmonis berubah menjadi tempaan disiplin hingga hukuman yang semakin membabi buta. Kadangkala hukuman itu sedemikian menyakitkan sampai-sampai David harus merangkak untuk menghindarinya – bahkan David mengatakannya sebagai proses menyelamatkan hidup.

Awal dari semuanya dimulai dengan nasib sial David yang memiliki suara yang lebih keras dibanding dengan anak-anak kecil lainnya ketika Ia tengah bermain. Akhirnya David pun selalu ketahuan bersikap nakal, sekalipun Ia dan kedua saudaranya sering sama-sama mengaku melakukan ‘kejahatan’ yang sama.

Pad awalnya hukuman yang diterima David berupa hukuman berdiri atau jongkok di pojok kamar tidur, atau kita bisa menyebutnya dengan istilah ‘strap . Sejak saat itulah sikap Ibunya berubah drastis, kadang kala, saat Ayahnya bekerja, Ibunya menghabiskan waktu seharian untuk tidur dan menonton acara televisi dengan masih menggunakan jubah mandi. Ibunya akan beranjak dari kursi kalau mau ke kamar mandi, menambah minum lagi, atau memanaskan sisa makanan. Ketika memanggil anak-anaknya, suaranya pun berubah dari suara seorang Ibu yang lembut menjadi seorang perempuan penyihir yang jahat. Perasaan atau mood dari Ibunya ini sering berubah-ubah, sejenak David pun bisa tahu apa yang bakal terjadi pada suatu hari hanya dengan melihat dari pakaian yang Ibunya kenakan. David bisa benafas lega pada hari ketika Ibunya keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang menawan dan mengenakan make-up. Pada hari demikian Ibu akan tersenyum sepanjang hari.

Pada saat Ibunya memutuskan bahwa ‘hukuman pojok kamar’ tidak lagi mempan, ‘hukuman cermin’ lalu dikenakan pada diri David. Wajah David ditempelkan dan ditekan pada kaca cermin, lalu dengan wajah yang basah oleh air mata dan membuat kaca cermin itu licin, Ibunya menggesek-gesekan wajahnya sambil memarahinya dan menyuruhnya mengatakan “Aku anak nakal ! Aku anak nakal ! ” berulang-ulang. Setiap kali kedua saudara laki-lakiya memandang ke arah David, mereka mengangkat bahu sedikit, lalu meneruskan permainan mereka – seolah-olah David tidak di situ. Mulanya sikap kedua saudaranya itu membuat David iri, namun David segera paham bahwa itu mereka lakukan semata-mata demi menyelamatkan diri mereka sendiri.

Banyak sekali perbuatan-perbuatan kasar Ibunya yang dilakukan kepada David. Salah satunya ketika Ibunya menyuruh mencari barang yang hilang di dalam rumahnya, dan David tidak menemukannya, Ibunya langsung melayangkan tinjuan ke muka David sehingga ada darah yang mengalir dari hidungnya, dan David pun mulai menangis.

Selama satu sampai dua bulan itu banyak sekali hukuman-hukuman yang diterima oleh David, hanya dengan alasan anak yang nakal. Dimulai dengan pukulan bertubi-tubi pada seluruh tubuhnya, mencambuknya dengan rantai anjing, memukulnya dengan pegangan kayu sapu pada kakinya – dan hal inilah yang pernah memuat david hingga berjalan pincang – menendangnya, memaksakan meletakan tangannya di atas api kompor, bahkan sampai mencekiknya.

Hingga pada suatu saat David mengalami ‘terkilir urat’ hingga tangannya tidak mampu lagi untuk digerakan. Pada saat itu Ibunya membawanya ke rumah sakit, dan Ibunya mengatakan ke dokter bahwa David terjatuh dari ranjang tempat tidurnya pada saat tidur. Namun sepertinya dokter pun mencurigainya kalau sakitnya itu bukan akibat kecelakaan, namun apa daya David memilih untuk bungkam dari pada berkata terus terang namun dengan resiko akan mendapatkan siksaan yang lebih parah lagi dari itu.

Sebagai anak kecil David menyadari, sikap Ibunya sangat berlawanan – seperti siang dan malam – saat Ayahnya ada di rumah, Ibu selalu bersikap ramah, namun ketika Ayahnya berangkat kerja Ibunya kembali menjadi nenek sihir yang jahat. Begitu pula ketika ada saudara atau tetangga yang berkunjung, Ibunya selalu berikap baik-baik saja. Namun ketika semuanya tidak ada di rumah, mulailah Ibunya menjadi nenek sihir yang jahat seperti sedia kala. Sejak saat itu pula ruang garasi yang berada di lantai bawah, menjadi kamr tidur David, dengan beralaskan dipan yang dilapisi oleh kain tipis yang lusuh, karena Ibunya sudah melarangnya untuk tidur di kamr tidur utama bersama kedua saudara laki-lakinya.

Perjuangan Untuk Mendapatkan Makan

Begitu beratnya kehidupan yang dijalani oleh David selama itu. Sehingga sejak itu sekolah menjadi satu-satunya harapan untuk melarikan diri. Pada awalnya, David memang menggunakan baju seragam baru dan juga wadah bekal makan siang baru yang masih mengkilat. Tetapi karena Ibunya menyuruhnya untuk mengenakan pakaian yang sama setiap hari sekolah, belum sampai sebulan pakaiannya sudah menjadi kumal, sobek, berbau tak sedap. Ibunya pun seakan tak peduli dengan luka memar-memar pada wajah dan sekujur tubuh David. Kalau pun ada orang yang menanyakan mengenai luka-lukanya itu, David harus memberkan jawaban yang sudah ditentukan oleh Ibunya, seperti ; terjatuh, bermain di lumpur, jatuh dari tempat tidur, kecelakaan ketika bermain, dan berbagai macam alasan lainnya yang bisa membuat orang lain merasa memakluminya. Namun sepertinya orang-orang itu pun curiga, namun kembali lagi, apa daya seorang David ketika itu.

Sejak saat itu pula Ibunya sudah ‘lupa’ memberikannya makan malam, sarapan pun nyaris tidak Ia dapatkan. Kalau sedang bernasib baik, David diizinkan untuk menghabiskan makanan sereal yang tersisa dari sarapan kedua saudara laki-lakinya – itu pun dengan syarat tugas-tugas rumah tangganya sudah Ia selesaikan sebelumnya. Yah, sejak saat itu David seakan-akan menjadi budak Ibunya. Ia melakukan segala pekerjaan rumah dengan rutin setiap harinya, seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, dan membersihkan juga merapihkan perabotan-perabotan yang berada di rumah itu.

Dengan semakin seringnya David tidak diberi makan oleh Ibunya, rasa naluriah lapar dalam dirinya pun timbul, sampai-sampai Ia merasakan perutnya seperti dipelintir akibat menahan rasa sakit dan lapar. Sejak saat itu David menjadi gelap mata, Ia mulai dengan mencoba mencuri makanan temannya di sekolah. Dengan mencuri makanan itu, David menelan barang curiannya itu dengan cepat kilat, sehingga Ia pun tidak bisa meraskan rasa dari makanan yang dimakannya, yang penting perutnya itu terisi dan Ia masih bisa hidup. Namun dalam waktu singkat, ternyata aksinya itu ketahuan oleh Gurunya, dan langsung melaporkan kepada Ibunya David. Lagi-lagi David mendapatkan siksaan-siksaan yang bertubi-tubi dari Ibunya, dan hukuman ‘tidak diberikannya makan’ adalah salah satunya.

Hari-hari dilalui David dengan hukuman ganda – tidak diberi makan dan dipukuli bertubi-tubi– , dan sejak saat itu pula Ibunya sudah tidak memanggilnya dengan sebutan nama, namun dengan sebutan “ anak itu ” . David berada di rumah itu, namun David sepertinya bukan anggota keluarga tersebut. David tidak boleh menggunakan fasilitas-fasilitas yang berada di rumahnya. Bahkan untuk menggunakan kamar mandi saja tidak boleh, kecuali mendapatkan izin dari Ibunya, jika tidak, Ia akan menerima siksaan-siksaan dari Ibunya. Hari-harinya dilalui dengan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dan ketika telah selesai David langsung turun ke lantai bawah – ruang garasi – untuk siap sedia menerima panggilan berikutnya dari Ibunya yang berada di lantai atas untuk membereskan meja makan setelah acara makan malam usai.

Sampai pada suatu saat Ayahnya diam-diam memberikan makanan pada David. Namun ternyata usahanya itu ketahuan oleh Ibu. Kemudian terjadilah perang mulut antara Ayah dan Ibunya, namun akhirnya Ibunya memenangkan perang mulut tersebut, dan Ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semakin Ayahnya berusaha untuk menolong David, mengakibatkan ketegangan antara Ayah dan Ibunya, cekcok pun terjadi siang malam tak henti-hentinya, namun tetap Ibunya lah keluar sebagai pemenang. Dengan hasil akhir bahwa hak asuh terhadap David adalah milik Ibu sepenuhnya, dan Ayahnya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, David kembali menjadi sasaran amarah Ibunya. Bahkan ketika itu David pernah dipaksa untuk memakan kotoran dari sebuah popok bayi – milik saudara laki-lakinya – yang sudah kotor dan bercampur air kencing. Namun david melakukan perlawanan ketika Ibunya memaksa untuk memakannya, sambil terisak-isak menangis, David melakukan perlawanan terhadap Ibunya, dan tentulah dibalas dengan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi oleh Ibunya. Hingga akhirnya Ibunya tidak berhasil menyuruhnya makan kotoran itu karena terhenti oleh tangisan saudara laki-lakinya itu yang tiba-tiba menangis. Sejak saat itu David merasa lega dan sekaligus bangga dapat mengalahkan Ibunya dari perlakuan jahatnya itu, meskipun wajahnya sudah berlepotan kotoran dari popok itu.

Rasa lapar yang menyelimuti David, membuat David memutar otak agar bisa mengisi perutnya dengan apa saja dan bagaimanapun caranya. Mencuri makanan teman-temannya sudah tidak bisa lagi Ia lakukan, disamping Ia memang sudah ketahuan, Ia juga dijuluki oleh temannya “David the food Thief” — David si Pencuri Makanan, dan “David Pelzer-Smellzer — Pelzer si Bau. Tak seorang pun mau mengobrol atau bermain dengannya. Kemudian David mulai kembali menyusun rencananya untuk mendapatkan makanan, yaitu dengan mencuri makanan yang ada di toko makanan dekat sekolah. Namun sepertinya rencana itu gagal, karena jangankan untuk melakukan pencurian makanan, pada saat Ia berada di dekat toko itu, orang-orang sudah melihat dan mencurigainya. Mengapa? Yah, seperti kita ketahui penampilan David yang lusuh dengan pakaian compang-camping membuat orang curiga bahwa dia akan melakukan pencurian, meskipun Ia belum melakukannya. Akhirnya David pun hanya bisa mengisi perutnya dengan air keran yang berada di dekat garasi yang digunakan untuk mencuci mobil. Yah, hanya itulah yang bisa Ia lakukan untuk mengisis kekosongan perutnya. Itu pun Ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Semakin besar dorongan Ia untuk makan, semakin keras pula usahanya untuk mencuri makanan dengan rencana yang leih matang lagi. Setelah acara makan malam selesai, Ia seperti biasa langsung mencuci piring gelas dan membersihkan ruang makan. Pada saat itu tak sengaja Ia mencium bau sisa-sisa makanan dari tempat sampah kecil yang telah dibuang oleh Ibunya. Pertamanya Ia merasakan mual dan jijik untuk memakannya, namun Ia sadar hanya itulah satu-satunya cara untuk mendaptkan makanan dan mengisi perutnya yang kosong itu. Akhirnya dengan hati-hati Ia memungut sisa makanan yang kelihatannya masih bagus, lalu dilahapnya dengan cepat. Namun tak lama dari itu, seperti biasa, kebiasaanya itu kandas karena Ibunya diam-diam mengetahui kebiasaannya itu. Tapi karena rasa lapar yang teramat sangat, Ia diam-diam masih memungut makanan dari tempat sampah itu, samapai pada akhirnya Ia terserang penyakit diare. Ternyata Ibulah yang bermain peran dari penyakitnya ini. Jadi, Ibunya sengaja menyimpan daging itu di lemari es, bukan di freezer, sehingga daging itu membusuk. Kemudian Ibu membuangnya ke tempat sampah, karena Ibunya tahu kalau David pasti akan memakannya. Karena kabiasaan memungut makanan itu terus Ia lakukan, akhirnya Ibunya menyiramkan amonia ke dalam keranjang sampah. Sejak saat itulah David berhenti melakukan kebiasaan memungut makanan dari tempat sampah.

Akhirnya berbagai cara untuk mendapatkan makanan pun Ia lakukan terus dengan mencari-cari jalan apa saja yang bisa Ia lakukan. Akhirnya Ia melakukan tindakan pencurian lagi. Ia mencuri makanan dari mobil kantin pengantar persediaan makanan beku. Ia lahap makanan itu dengan tergesa-gesa, sampai nyaris terdesak. Setelah perutnya terisi, Ia kembali ke kelas dengan perasaan bangga bahwa : Ia bisa memberi makan dirinya sendiri.

Namun seperti biasanya, lagi-lagi, belum sempat Ia merasakan enaknya makanan beku yang baru saja Ia makan, pada saat pulang ke rumahnya, Ibunya menyeretnya ke kamar mandi – seakan-akan mengetahui kalau Ia memakan sesuatu. Ibunya langsung meninju perutnya sedemikian kerasnya, kemudian memaksakan untuk memasukan jarinya ke dalam tenggorokannya sendiri, David meronta tak karuan. Akhirnya Ibunya melepaskannya, dengan syarat David harus mau memuntahkan isi perutnya di depan Ibunya. Akhirnya dengan perasaan yang tertekan itu pun dilakukan David, hingga keluarlah makanan yang telah Ia makan sebelumnya di sekolah. Kemudian Ibunya berkata “ sudah kuduga, kamu pasti melakukan pencurian lagi ”. Kemudian Ibunya masuk ke ruang tengah sebentar dan kembali lagi ke kamar mandi dengan membawa mangkok kosong dan menuruh ke pada David untuk memungut muntahnya agar dimasukan ke dalam mangkuk itu. Seperti biasa, bila David tidak mau, maka hantaman pukulan dan tendangan pun melayang ke sekujur tubuhnya. Akhirnya David pun memungut makanan itu ke dalam mangkuk, dan sungguh di luar pikirannya ternyata Ibunya langusng mencekik lehernya dari belakang dan menekakan mukanya ke dalam mangkok itu sambil berkata “ Makan…Makan..!!! Kalau tidak, aku akan membunuhmu..Cepat makan..!!!” . Apalah daya seorang David ketika itu. Akhirnya dengan tubuh yang tidak berdaya dan wajah penuh tangisan lirih, Ia mencba menelan kembali makanan yang telah Ia muntahkan sebelumnya, sampai semua muntahannya itu tak tersisa lagi di dalam mangkok yang Ibunya bawa sebelumnya.

Namun itu semua tidak merubah semangat jiwa seorang David untuk mendaptkan makanan bagaimanapun caranya, yang penting Ia bisa bertahan hidup dengan cara mengisi apapun ke dalam perutnya. Akhirnya cara lain Ia lakukan kembali, termasuk mengemis-ngemis ke rumah orang lain, sambil berkata “Aku kehilangan bekal makan siangku. Maukah Ibu memeberiku penggantinya ?”. Namun malang nasib David, karena belum sempat Ia menikmati caranya itu, Ia mendatangi rumah yang salah. Ia tidak sengaja mendatangi salah satu rumah, yang ternyata penghuninya itu adalah teman dekat Ibunya. Akhirnya teman Ibunya pun melaporkan kejadian tersebut. Dan sampailah David pada penyiksaan yang sungguh dirasakan berat dari pada siksaan-siksaan yang pernah diberikan oleh Ibunya David selama ini. Yah, Ibunya menghukum David dengan memaksanya untuk menelan atau meneguk satu sendok makan cairan amonia, dan seperti biasa, apalah daya David tidak bisa melakukan perlawanan. Akhirnya setelah Ia meneguknya, terasa lidahnya melepuh, tenggorokannya kering, matanya terasa akan copot, badannya terhuyung-huyung, kepalan tangannya melemah, samapai akhirnya Ia bisa bernafas kembali setelah Ibunya menepuk punggungnya dengan keras yang membuat Ia bersendawa, dan bisa bernafas lagi.

Sejak saat itu perlakuan Ibunya semakin menggila, bahkan bisa dibilang sinting. Ibunya mulai senang mencekoki David dengan amonia, atau juga dengan Clorox – semacam cairan penghancur kotoran. Bahkan tak segan-segan Ibunya mencekoki David dengan sabun cair pencuci piring. Ketika menelan cairan sabun itu, David merasakan tenggorokannya sangat kering, sehingga Ia meminum banyak-banyak air keran. Tak lama kemudian perutnya merasa sakit sekali, perih, dan melilit. Akhirnya dengan memohon-mohon kepada Ibunya untuk izin menggunakan toilet yang berada di dalam rumahnya, tetapi Ibunya tidak mengizinkannya. Akhirnya karena tidak bisa untuk ditahan lagi, Ia berjalan secara berjongkok seperti bebek ke arah tempat keran yang biasa Ia gunakan untuk minum, kemudian Ia meraih sebuah ember dan mengeluarkan semua kotorannya itu di dalam ember tersebut. Sejak saat itulah Ia merasa sudah seperti anjing bahkan lebih hina dari itu.

Yah itulah berbagai cara yang Ia lakukan untuk medapatkan sesuatu makanan untuk mengisi perutnya. Karena hanya itulah yang bisa Ia lakukan untuk bertahan agar tetap hidup,

Terselamatkan

Akhirnya kisah ini berakhir dengan diselamatannya David oleh lindungan polisi. Mengapa Itu bisa terjadi? Karena di sekolahnya, tanpa sepengetahuan David, ada seorang perawat sekolah yang selalu memperhatikan sikap, perbuatan, dan segala perubahan yang terjadi pada David. Dan perwat itu dengan teliti sekali melakukan suatu penyidikan, sampai akhirnya Ia menemukan suatu jawaban bahwa David telah menjadi korban daripada child abuse. Yah, akhirnya perawat itu melaporkan segala penyidikannya ke kepala sekolah, dan akhirnya berita itu sampailah pada pihak yang berwenang. Akhirnya setelah itu, David langusng diserahkan kepada bagian perlindungan anak, dan mereka membawanya ke tempat yang bertuliskan “THE MOST BEAUTIFUL HIGHWAY IN THE WORLD” . Sejak itulah David dapat kembali mengeluarkan senyuman dari raut wajahnya, dan langusng berkata pada dirinya “ Aku bebas…..!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Epiloge

Yah, seperti itulah kira-kira ringkasan dari buku “A CHILD CALLED “ IT ” . Ini semua adalah merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi. Kisah tentang children abuse atau kekerasan terhadap anak, yang terjadi pada salah satu keluarga di daerah San Fransisco.

Kisah ini merupakan kisah hidup penulis – David Pelzer, dan Ia-lah yang mengalami semuanya. Selama bertahun-tahun Ia dikurung dalam kegelapan, dikucilkan dari pikiran dan perasaan yang ada, merasa sendirian, serta menjadi anak yang selalu dikalahkan. Namu itu semua tidak membuat Ia menyerah, dan menerima begitu saja kenyataan yang ada. Ia tak henti-hentinya melawan keadaan yang terjadi hanya untuk memenuhi akan kebutuhan hidupnya. Meskipun Ia tahu akan berakhir dengan hasil yang sia-sia bahkan lebih parah.

David Pelzer mengangkat sebuah tema yang sangat tragis dan merupakan jawaban otentik dari semua permasalahan children abuse, karena David terjun langsung sebagai tokoh utama dan mengalami sendiri semua kejadian-kejadian itu. Kejadian yang tidak akan mungkin terlupakan seumur hidupnya, karena tidak hanya meninggalkan luka-luka lahir saja seperti guratan-guratan pisau di tubuhnya, tetapi juga luka batin yang ibarat sebuah supernova yang suatu saat mungkin dapat menghisapnya lagi. David Pelzer mengajarkan sekaligus mengajak kita untuk merasakan kesendiriannya di antara kehangatan keluarga, mereka tidak menghiraukan keberadaannya karena David sendiri dianggap sebagai ‘sesuatu’. Kita dapat merasakan kemarahannya, merasakan kesakitannya saat ia dipukuli, serta merasakan sejuta harapan dan impian yang ia pendam. David juga terkadang menyeret kita untuk terjun merasakan isak tangis dan ratapan anak-anak yang tersiksa.

Yah, kisah ini lebih daripada sebuah kisah memertahankan kelangsungan hidup. Kisah ini merupakan sebuah cerita kemenangan. Bahkan dalam saat-saat yang paling kelam pun, kemauan hiduplah yang berusaha tak kunjung padam.

Melihat dari cerita yang ada, Saya teringat akan kata-kata yang pernah ditulis ‘Dale Carnegie’ dalam bukunya Petunjuk Hidup Tentram dan Bahagia, Ia mengatakan :

Dengan pikiran kita, kita dapat merubah minuman yang terasa masam menjadi minuman yang segar dan manis ”. Begitu pula dengan jiwa David Pelzer yang selalu berusaha mencoba menghilangkan dan menghapus realita yang tengah terjadi pada dirinya ketika dia berada dalam siksaan Ibunya. Ia sering membayangkan menjadi seorang pangeran yang tidur di atas kasur empuk pada saat Ia tertidur di atas dipan berlaskan kain lusuh. Ia juga sering membayangkan dirinya tengah melahap makanan lezat yang mahal, ketika Ia tengah melahap sisa-sia makanan yang berada di tempat sampah. Itulah keteguhan seorang David Pelzer. Hingga saat ini Ia menjadi seorang yang sukses yang mendapatkan pernghargaan dari beragai kalangan. Sampai pada akhirnya Ia menuliskan buku trilogi ini. Sungguh persembahan yang sangat berharga sekali dari diri seorang David Pelzer yang mau berbagi dengan kita dengan menceritakan pengalaman hidupnya yang sangat pahit tersebut. Sungguh sesuatu yang tidak mudah dilakukan oleh banyak orang.

Saya berfikir sejenak, kalaulah David Pelzer ini seorang Muslim, mungkin Ia terinspirasi untuk menulis buku trilogi ini dari firman Allah SWT dalam surat Ad-Dluha ayat ke-11 yang berbunyi “ Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaknya kamu memberitakannya sambil bersyukur ” .

Sekali lagi, PERJUANGAN FISIK MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP MEMANG PENTING, NAMUN YANG LEBIH PENTING ADALAH MEMPERTAHANKAN SEMANGAT AGAR TETAP HIDUP.

– The End –

Written by rido284

September 8, 2008 at 12:50 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: