And now , Bring me that horizon …

Lets start the new adventure !

Dokter VS Tukang Cukur

leave a comment »

Dokter VS Tukang Cukur

Cuma tukang cukur yang berpeluang megang-megang kepala presiden. Dokter nyaris tak akan pernah, sekalipun spesialis, kecuali presidennya sedang sakit ketombean atau memerlukan perawatan kepala.

Tukang cukur boleh bersiul-siul selama menggunting rambut sambil ngelantur menghitung kode buntut atau membayangkan hal-

hal lain tanpa risiko. Tergunting daun telinga pelanggannya pun, masih dianggap lumrah. Tapi dokter sudah harus putar otak sejak pasein memasuki pintu praktiknya, mengamati cara pasein berdandan, berjalan dan menyalaminya. Ini penting agar dalam sepuluh-duapuluh menit dokter tidak salah mendiagnosis. Seandainya saja praktik dokter dilakukan sambil bersiul atau menghayal ini-itu, bisa saja terjadi obat hormone wanita diresepkan untuk pasein pria. Ini petaka tak termaafkan karena istri orang akan kehilangan kesuamian suaminya.

Tukang cukur masih pantas buka pangkas di bawah poho duren atau beringin, namun janggal sekiranya dokter sampai berpraktik di trotoar, pakai jeans berkaos oblong tanpa risiko dihujat pasein. Penampilan bagi dokter sama luhurnya dengan profesinya, namun tak begitu penting untuk tukang cukur, karena dengan berkaos kutang pun tak mengapa, sebab yang penting bisa mencukur tanpa membuat kepala yang dicukurnya pitak.

Salah potong model rambut masih lumrah, bahkan sekalipun terpangkas separuh kepala pun, dan kesalahan ini tidak berlaku bagi dokter untuk keteledoran tanpa sengaja yang paling kecil pun, karena dokter dianggap manusia super.

Hari naas tukang cukur hanya terjadi apabila salah mendengar order pelanggannya yang diminta dipotong layaknya jambul Titi DJ, didengarnya minta dibotaki, dan celakanya lagi, yang dicukur terlanjur tidur, lalu terkejut ketika mau bayar kok kulit kepala sudah terasa dingin semuanya.

Sampai begitu pun belum ada undang-undang yang bisa mempidana tukang cukur, kecuali pelanggannya main hakim berdua. Namun jika sampai dokter ada yang salah sunat, misalnya, sudah pasti di kirim ke teralis besi.

Dokter pantang salam melakukan kerja profesinya. Tapi dokter juga manusia yang bisa risau memikirkan gaji kurang, misalnya, sehingga teledor sewaktu menulis resep, Tante yang minta dikuruskan malah diberi obat gendut, atau gadis jelita mendadak jadi gendut gara-gara dokter salah member obatnya.

Dokter dilarang salah dengar, salah ucap atau salah-salah lainnya, apalagi kalau salah periksa atau cara memeriksanya. Tante Jelite pasti protes jika penyakit eksim di tangannya dokter minta buka baju sekujurnya juga. Namun tukang cukur yang rajin membelai-belai dan memijat-mijat kepala dan pundak pelanggannya akan sangat dipuji reputasinya, dan sama sekali tidak dibilang tindakan yang tidak senonoh.


Tukang cukur boleh sambil menyelam minum air. Umpamanya saja ingin melampiaskan unek-uneknya dengan cara mengguncang-guncangkan kepala Pak RT atau walikota lebih keras, karena jengkel beberapa kali ia kena razia ketertiban kota. Namun tidak etis bagi dokter kalau sampai meninju perut pasein sewaktu memeriksa hati atau limpa, sekalipun benar paseinnya itu pernah merebut pacarnya dulu. Namun tukang cukur bisa saja berpura-pura tak sengaja menjitak sewaktu memangkas tukang kredit karena sakit hati ditagih di muka umum.

Dokter wajib menahan diri tidak ketus, sekalipun terhadap paseinnya yang doyan berobat gratisan atau sering minta kredit. Tukang cukur bisa seenaknya mengancam akan menggunduli pelanggannya jika cukurannya bulan lalu masih diutang. Sebaliknya, dokter tak patut mengancam suntik mati, sekalipun paseinnya maen bola di kamar praktinya.

Menghadapi pasein wanita seksi yang berpose menantang di atas tempat periksa pun dokter pria musti pandai merubah perangainya secepat mungkin menjadi kakek berumur 80 tahun, jinak tak bersemangat. Tapi tukang cukur bisa saja iseng mengintip ini-itu.

Dokter yang merasa perlu menaikan tarif karena alas an gaji tidak cukup tetap dinilai tak etis. Tapi hal itu tidak berlaku bagi tukang cukur, yang bisa saja mematok harga jasa potong rambut kapan saja.

Tukang cukur boleh-boleh saja mengkilik lubang telinga pelanggannya sampai tertidur. Tapi dokter THT yang bagian tugasnya juga membersihkan lubang telinga, dianggap malpraktik jika sampai membuat paseinnya tertidur dan tak bangun lagi.

Tukang cukur sah saja memasang papan nama berlampu kelap-kelip, namun tak etis bagi dokter memasang iklan atau papan nama warna-warni berlampu disko, jika tidak ingin dianggap bekas penyanyi dangdut.

Tapi perlu diingat, tukang cukur agak sukar untuk mencukur rambutnya sendiri, tapi dokter masih bisa menyuntik sendiri dan mengobati sendiri ketika sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: